Undergraduate Theses from JBPTITBPP / 2014-05-13 16:05:39
Oleh : FRANS SALOM S. (NIM : 131 04 139); Pembimbing : Ign. Pulung Nurprasetio, S1 - Department ofMechanical Engineering
Latar belakang pembuatan alat pencekam pelat penekan kopling ini adalah melanjutkan tugas akhir Felix Stephanus (Mesin 2004). Sebelumnya Felix telah merancang dan membuat mesin uji lelah di Laboratorium Mekanika dan Konstruksi Mesin ITB.Mesin uji ini mampu beroperasi dengan baik, namun tidak disertai sistem pencekaman pelat penekan kopling yang memadai. Sistem pencekaman padasistem tersebut menggunakan baut yang dipasang pada pelat penekan. Sistem pencekaman ini tidak praktis dan tidak mampu mengakomodasi ukuran pelat penekan yang berbeda.
Tugas akhir ini bertujuan untuk menambah nilai padamesin uji ini dengan cara merancang dan membuatsistem pencekaman yang lebih praktis dan mampu mengakomodasi ukuran pelat penekan yang beragam.
Awal langkah pengerjaan tugas akhir ini adalah dengan melakukan studi literatur dan tinjau patent untuk melihat sistem-sistem pencekam yang sudah beredar di pasaran.
Kemudian penulis meninjau kelebihan dan kekurangan setiap sistem sehingga kemudian dapat merancangsistem pencekam sederhana yang cocok untuk mesin uji lelah tersebut.
Alat pencekam yang dibuat saat ini masih menggunakan tenaga manusia untuk pengoperasiannya, namun di masa yang akan datang dapat ditingkatkan dengan menggunakan sistem aktuator pneumatik. Dengan menggunakan perangkat lunak Autodesk Inventor, penulis merancang beberapa disain sistem pencekam dan meninjau setiap sistem untuk memilih sistem yang paling sesuai digunakan pada mesin uji lelah. Setelah itu pembuatan tiap komponen dan perakitan sistem dilakukan di Laboratorium Mekanika dan Konstruksi MesinITB.
Pengujian sistem pencekaman ini dilakukan di laboratorium dengan megoperasikan langsung di mesin uji lelah yang dibuat oleh Felix. Hasil dari pengujian tersebut adalah
sistem ini dapat bekerja dengan baik dan mampu menahan pelat penekan kopling pada tempatnya selama pengujian berlangsung.
ANALISIS KERUGIAN GESEK DAN EFISIENSI VOLUMETRIK PADA SISTEMKATUP PUTAR MOTOR BAKAR TORAK
Master Theses from JBPTITBPP / 2009-03-11 15:20:12
Oleh : EDWARD WAWOLUMAYA (NIM 23107025), S2 - Mechanical Engineering
Sistem katup putar merupakan pengembangan dari sistem katup konvensional yang masih menggunakan poros kam. Pada penelitian ini dilakukan analisis kerugian gesek dan efisiensi volumetrik pada prototipesistem katup putar untuk mengetahui sistem katup yang lebih baik.
Mekanisme sistem katup putar dibuat ulang untuk keperluan pengujian gesekan dan volumetrik. Hasil rancangan diaplikasikan pada mesin sepeda motor tipe Honda Kirana. Alat uji gesek dirancang untuk menguji gesekan total dari torak, cincin torak, sistem katup, mekanisme penggerak sistem katup, dan bantalan-bantalan. Alat uji volumetrik dirancang untuk menguji kerugian volumetrik dari mesin sepeda motor saat langkah isap.
Dalam penelitian ini, perancangan dan pembuatan prototipe sistem katup putar dan alat uji dilakukan terpisah. Metoda yang digunakan untuk melakukan pengujian kerugian gesek adalah metoda motoring. Pada pengujian ini motor listrik digunakan untuk memutar mesin sepeda motor. Torsi yang digunakan untuk melawan putaran mesin sepeda motor diukur untuk mengetahui besar dari kerugian gesek mesin tersebut. Efisiensi volumetrik dicari dengan mengukur debit udara masuk dengan menggunakan anemometer.
Hasil yang akan didapat pada pengujian ini adalah perbandingan kerugian gesek dan debit udara yang diisap oleh sistem katup putar dan konvensional. Dari hasil pengujian, selisih rata-rata daya akibat kerugian gesek dari sistem katup putar dan sistem katup konvensional adalah 79,45 W. Sedangkan selisih rata-rata persentase efisiensi volumetrik adalah 8,87%. Dengan demikian diketahui bahwa sistem katup konvensional memiliki kerugian gesek dan efisiensi volumetrik yang lebih baik daripada prototipe sistem katup putar yang dibuat.
PROTOTIPE SISTEM PAKAR UNTUK DIAGNOSA KERUSAKAN MESINTURBOPROP CT7-9C
Master Theses from JBPTITBPP / 2012-06-19 11:55:06
Oleh : Wahyudi (NIM : 233 94 020), S2 - Instrumentation and Control
Oleh : Wahyudi (NIM : 233 94 020), S2 - Instrumentation and Control
Sistem pakar adalah salah satu bidang dari intelegensia buatan yang dirancang untuk membantu manusia dalam memecahkan suatu permasalahan tertentu yang biasanya dikerjakan oleh seorang pakar.
Pada penelitian ini dikembangkan prototipe sistempakar untuk diagnosa kerusakan mesin turboprop CT7-9C. Penelitian dilakukan di Universal Maintenance Center PT. IPTN. Mesin turboprop CT7-9C biasa digunakan sebagai tenaga pendorong pesawat jenis komuter seperti CN235-100. Diagnosa kerusakanmesin turboprop CT7-9C terdiri dari dua jenis pengujian yaitu pengujian fungsionil (fuctional test) dan pengujian kinerja (performance test). Pengujianmesin ini bertujuan agar mesin dapat beroperasi sebagaimana mestinya dan dalam kondisi man, artinyamesin dapat menghasilkan daya yang dikehendaki dengan suhu masukan turbin daya (T45) yang diperbolehkan. Pengujian fungsionil terdiri dari 13 bagian kasus pengujian yang akan didiagnosa, sedang pengujian kinerja memerlukan 11 data mesin yang selanjutnya dipergunakan untuk mengetahui apakah terjadi kerusakan pada bagian kompresor, bagian panas, dan bagian turbin daya. Diagnosa kerusakan akan berakhir jika mesin sudah dalam kondisi baik, yaitu jika T45 margin diatas 30 derajat C atau untuk pekerjaan kecil (minor work scope) adalah antara 20 derajat C sampai dengan 30 derajat C .
Pada penelitian ini dikembangkan prototipe sistempakar untuk diagnosa kerusakan mesin turboprop CT7-9C. Penelitian dilakukan di Universal Maintenance Center PT. IPTN. Mesin turboprop CT7-9C biasa digunakan sebagai tenaga pendorong pesawat jenis komuter seperti CN235-100. Diagnosa kerusakanmesin turboprop CT7-9C terdiri dari dua jenis pengujian yaitu pengujian fungsionil (fuctional test) dan pengujian kinerja (performance test). Pengujianmesin ini bertujuan agar mesin dapat beroperasi sebagaimana mestinya dan dalam kondisi man, artinyamesin dapat menghasilkan daya yang dikehendaki dengan suhu masukan turbin daya (T45) yang diperbolehkan. Pengujian fungsionil terdiri dari 13 bagian kasus pengujian yang akan didiagnosa, sedang pengujian kinerja memerlukan 11 data mesin yang selanjutnya dipergunakan untuk mengetahui apakah terjadi kerusakan pada bagian kompresor, bagian panas, dan bagian turbin daya. Diagnosa kerusakan akan berakhir jika mesin sudah dalam kondisi baik, yaitu jika T45 margin diatas 30 derajat C atau untuk pekerjaan kecil (minor work scope) adalah antara 20 derajat C sampai dengan 30 derajat C .